Senin, 01 Maret 2010

Tanjidor, tak Lagi Nyaring Bunyinya

TANJIDOR secara perlahan mulai tergusur dari kancah hiburan rakyat Bekasi. Kesenian ini terjepit di antara organ tunggal, dangdut, jaipong, dan band pop. Mulai ditinggalkan karena dianggap usang dan merepotkan, serta tidak lagi ditampilkan dalam kegiatan seremonial pemerintah daerah. Hanya sesekali muncul saat bulan Syawal, Lebaran, hajatan pernikahan atau tahun baru imlek, itu pun sudah mulai langka.

Tanjidor adalah hasil penyederhanaan orang-orang pribumi terhadap musik orang-orang eropa, pada saat masih berkuasa di Indonesia pada abad ke 17. Awalnya, Tanjidor adalah hiburan para kaum bangsawan Eropa dan tuan tanah. Kehadirannya berbarengan dengan musik keroncong dan cokek.

Tanjidor memiliki beberapa instrumen alat musik yang didominasi oleh alat musik tiup, seperti suling (klarinet), terompet bas, terompet tenor, terompet trombon, terompet piston, genjreng (simbal), beduk, dredek (tambur), dan nining (panil).

Menurut Ane Matahari seniman Bekasi, musik Tanjidor jika didengarkan secara saksama, secara pentatonis lebih dekat dengan Cina dan mendapat sentuhan unsur Eropa. Akan tetapi, sudah mendapat sentuhan pribumi, sehingga judul-judul lagunya pun menggunakan nama Betawi. Seperti Mars Jin Berfikir dan Mars Sepotong, Mars Batalion, dan Mars Kramton. Seperti cokek dan orkestra Eropa, tetapi bercitra rasa lokal. "Tanjidor dulu dipentaskan untuk menghibur para bangsawan Belanda dan tuan tanah, yang mayoritas beretnis Cina, " katanya menjelaskan.

Namun, Bekasi sudah berubah. Era kejayaan Tanjidor sudah mulai meredup. Mereka harus berhadapan dengan musik generasi kini, yang berisi lagu-lagu populer dan mudah dilafalkan tetapi cepat juga dilupakan. Lagu-lagu wajib Tanjidor seperti, Jali-jali, Kembang Kacang, Kang Haji, kini harus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Tanjidor tidak lagi melulu memainkan lagu-lagu Betawi, sesekali juga mengadopsi pop atau dangdut berirama melayu campur Sunda. Juga sudah mulai memakai gendang, gong, gitar, bahkan organ. Meski menjadi agak aneh kedengarannya.

"Saya termasuk orang yang tidak sepakat, jika Tanjidor melakukan modifikasi mengikuti perkembangan zaman. Tanjidor harus tetap orisinal, karena di situlah nilai seninya," ujar pria berambut gondrong tersebut.

Tanjidor di Bekasi, tidak jauh berbeda dengan Tanjidor di Jakarta dan Tangerang. Hanya dialek bahasanya saja yang berbeda. Menurut musisi yang bergiat di DKB (Dewan Kesenian Bekasi) tersebut, kelompok Tanjidor di Bekasi masih banyak. Di antaranya Kelompok Kacrit di Jati Mulya dan Tanjidor Proyek di daerah Teluk Buyung.

"Hampir semua sanggar topeng, biasanya juga memiliki grup Tanjidor, " ujar Ane yang mengaku pernah berkolaborasi dengan beberapa kelompok Tanjidor.

Tantangan yang dihadapi oleh Tanjidor adalah regenerasi. Minimnya minat generasi muda untuk belajar Tanjidor salah satu penyebab mengapa kesenian ini di ambang kepunahan. Bahkan, anak-anak pemain Tanjidor sendiri sudah tidak mau meneruskan keahlian orang tua mereka. Padahal, dulu menguasai alat musik Tanjidor merupakan suatu kebanggaan tersendiri.

"Para pemain Tanjidor rata-rata sudah berumur dan mereka mengeluhkan tentang regenerasi. Karena tidak ada penerus, mereka yang sudah berusia tua-tua tersebut tetap berjuang sendiri, kadang saya tidak tega melihatnya, " kata Ane.

Selain masalah regenerasi, kendala lainnya adalah terkait dengan peremajaan alat yang tergolong sangat mahal, mencapai jutaan rupiah. Sementara penghasilan para pemain Tanjidor tidak menentu. Menurut Ane, seniman Tanjidor orang-orang yang terjepit dan berjuang dalam keterbatasan.

Ia berharap, pemda segera melakukan tindakan untuk melestarikan kesenian tradisi lokal ini dan merangsang minat generasi muda untuk belajar kesenian Tanjidor. Hal ini bisa dilakukan, dengan memasukkannya dalam kurikulum sekolah untuk dijadikan muatan lokal. Sebab, jika tidak ada upaya pelestarian, dikhawatirkan Tanjidor akan mati seperti banyak kesenian Bekasi lainnya, seperti Ujungan, Wayang Dungdung, dan Wayang Bekasi.

"Kalau perlu harus ada perda, yang melindungi keberadaan kesenian lokal. Lagi-lagi ini masalah kepekaan pemegang kebijakan dalam menjaga tradisi," kata Ane. (JU-16)*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar